Deepfake dan Bahayanya

Tantangan yang harus dihadapi oleh perusahaan teknologi di era digital saat ini adalah hadirnya video deepfake. Deepfake merupakan misinformasi atau hoaks yang beredar di dunia maya dalam bentuk video. Video deepfake ini sangat sulit dideteksi atau diverifikasi keasliannya, apakah video itu asli atau sudah dipalsu.

Di era yang serba canggih, banyak software yang mampu membuat video deepfake. Hal ini membuat perusahaan besar sulit untuk mendeteksi video yang sudah dimanipulasi menggunakan deepfake. Akibatnya, kepercayaan masyarakat terhadap internet akan menghilang. Jika itu terus terjadi, maka dapat memicu kontradiksi sosial di masyarakat.

Deepfake memanfaatkan teknologi yang disebut dengan deep learning, yakni bentuk kecerdasan buatan. Video dibuat dengan memasukan gambar dan suara dari orang tertentu ke dalam software deepfake. Kemudian, software ini belajar bagaimana menirukan ekspresi wajah, kebiasaan gerak tubuh, intonasi suara dari orang tersebut.

Saat ini, teknologi deepfake masih memiliki kelemahan. Misalnya orang yang sedang berkedip. Di dalam video deepfake, itu akan terlihat tidak alami. Namun, teknologi ini akan terus dikembangkan.

Keberadaan deepfake memang mengakibatkan kesalahpahaman di masyarakat. Bahkan, hal ini bisa menyebabkan perpecahan antar negara. Oleh karena itu, deepfake telah menjadi sebuah ancaman sosial yang bisa mencemarkan nama baik seseorang.

Di Amerika Serikat, ada seorang pengguna Reddit berani merubah wajah selebritis menjadi wajah bintang porno dengan menggunakan deepfake. Hal ini membuat amerika serikat menjadi resah dan khawatir akan keberadaan deepfake. Akhirnya, pemerintah amerika serikat menyuruh CIA untuk mengatasi dampak buruk dari penyebaran video deepfake terhadap keamanan negara.

Jika video deepfake semakin luas, maka penyebaran hoaks semakin sulit untuk dihentikan. Hal ini dikarenakan deepfake dapat meniru wajah, suara, dan tingkah laku dari seseorang. Contohnya John Oliver dan Stephen Colbert, mereka dijadikan eksperimen untuk penggunaan deepfake. Hasilnya, raut wajah Colbert menjadi sedikit berkeriput dan memiliki resolusi yang lebih rendah. Bahkan, video Barack Obama sudah dimanipulasi dengan menggunakan deepfake.

Menurut riset yang dilakukan Dailysocial, mereka menemukan bahwa penyebaran hoaks terbesar terdapat di platform Facebook. Selanjutnya, Whatsapp dan Instagram menjadi platform ke-2 dan ke-3 untuk penyebaran berita hoaks. Video deepfake bisa jadi tersebar diantara ketiga platform tersebut.

Untuk itulah, Facebook telah membuat sebuah program Deepfake Detection Challenge. Tujuannya tak lain adalah menghasilkan teknologi yang bisa dipakai untuk mendeteksi video yang telah dipalsukan menggunakan deepfake. Bahkan, Facebook berkomitmen untuk mengeluarkan dana sebesar 10 USD atau setara 140 miliar rupiah untuk membiayai program tersebut. Nantinya, dana ini digunakan sebagai hadiah atau hibah penelitian untuk mendorong upaya pengembangan teknologi.

Oleh sebab itu, kita harus bijak untuk menerima sebuah berita yang belum tahu kebenarannya. Sebaiknya, kita periksa terlebih dahulu sebelum disebar ke media sosial lain. Hal itu merupakan tindakan kecil yang dapat dilakukan untuk mengurangi penyebaran berita hoaks saat ini.  

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *